Air Hujan Berkah dan Bencana bagi Mereka Mengingkarinya




20 Sep 2021, 09:58:52 WIB

Air Hujan Berkah dan Bencana bagi Mereka Mengingkarinya

Dr Ambo Dai Zakaria


AIR merupakan salah satu simbol kehidupan, karena tanpa air, tidak akan ada kehidupan. Air hujan yang turun dari langit seyogianya disambut sebagai keberkahan. Allah SWT berfirman dalam Alquran bahwa hujan yang turun ke bumi sebagai rahmat yang diperlukan seluruh makhluk. “Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Mahaterpuji.” (QS Asy-Syuura: 28).

Bencana dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan yang disebabkan oleh alam. Biasanya bencana ini menyangkut segala kejadian yang menimpa dalam skala yang besar dan efek yang luar biasa. Diatur pula di dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, bahwa bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Curah hujan September 150 mm hingga 200 mm diatas normal (Balikpapan Pos, Kamis 9 September 2021). Apakah makna tulisan tersebut, data curah hujan 150 mm sampai dengan 200 mm. Dengan kapasitas tingkat curah hujan sebesar 200 mm, maka Kota Balikpapan, luas  503.300.000 m2, dan asumsi, bahwa air tersebut tidak mengalir, tidak meresap ataupun tidak menguap, maka volume air yang akan tertampung adalah V = 200 mm x 503.000.000 m2,, yaitu 100.660.000 m³ tersebar dibeberapa tempat.

Rumusan ini dapat dijadikan sebagai tolok ukur di dalam pengambilan kebijakan pengendalian air hujan di Kota Balikpapan, jumlah 100.660.000 m3, merupakan berkah, artinya terdapat modal besar untuk dijadikan barang manfaat dari Tuhan Yang Maha Esa. Barang ini wajib untuk dikelolah, tidak dengan cara mengalirkan ke laut sebagai upaya yang tepat di dalam pengelolaan air hujan. Artinya fungsi pengembalian air ke laut merupakan fungsi sisa dari kemampuan pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang dapat dilakukan.

Fungsi sisa dari perhitungan variabel tersebut, dijadikan bahan pertimbangan di dalam pengendalain air hujan di Kota Balikpapan. Fungsi ini bisa saja normalisasi volume drainase atau memperbaiki drainase sesuai dengan level masing-masing lokasi, membangun waduk baru pada sisi pemerintah, dan memperbaiki kesatuan ekosistem hutan kota. Tidak terlupakan untuk membangun pintu batas air antara ekosistem air laut dan ekosistem daratan, pembagunan ini diarahkan pada daerah muara sungai yang tersebar di Kota Balikpapan.

Perlu kehati-hatian didalam kebijakan mengalirkan air ke laut melalui drainase dengan menambah dan atau mempercepat terjadinya aliran menuju ke laut. Diingat bahwa Kota Balikpapan memiliki kontur wilayah yang umumnya berbukit (85%) dengan ketinggian antara 0 sampai dengan lebih dari 100 meter diatas permukaan laut (mdpl). Sebagian besar jenis tanah Balikpapan adalah podsolik merah-kuning, alluvial, dan pasir kuarsa yang mudah tererosi, (Bappeda, 2011). Data ini menujukkan bahwa terdapat area yang 15% daratan rendah, setiap saat akan tergenang air, bila terdapat pasang air laut naik secara bersamaan hujan turun pada kawasan tersebut. Jika pemikiran pemerintah mempercepat terjadinya aliran air menuju ke laut sebagai solusi yang pertama, maka dipastikan jumlah air yang tertampung di daerah rendah adalah100.660.000 m3 tersebar di beberapa daerah dataran rendah di Kota Balikpapan, ini akan menjadi bencana.

Kota Balikpapan dengan tingkat curah hujan 200 mm merupakan tingkat curah hujan dalam skala ekstrem, namun ini menujukkan berkah bagi masyarakat yang mensyukuri nikmatNya. Langkah jangka pendek yang perlu dipikirkan adalah seberapa besar kemampuan masyarakat, dunia usaha dan pemerintah untuk menampung air. Konsep penampungan air dengan cara, yaitu kebutuhan bumi dan kebutuhan mahluk hidup serta dunia usaha. Kebutuhan bumi dilakukan dengan membuat bunker di dalam tanah (tanpa cor pada bagian bawah) dan bio pori, volume diukur berdasarkan luasan kepemilikan tanah, dan untuk kebutuhan mahluk hidup dan dunia usaha, volume air didasarkan atas kesesuaian kebutuhan pribadi.

Pemerintah memiliki beberapa tempat penampungan air (bendungan pengendali air), dunia usaha juga memiliki tempat penampungan air. Pertanyaannya adalah apakah sudah dimanfaatkan dengan baik. Artinya sudah sesuai dengan rumusan perhitungan luasan bendungan, terdapat pintu air masuk dan keluar dan Sumber daya manusia yang bertugas khusus untuk mengendalikan, terdapat posedur tetap dari pemerintah tentang interkoneksi pengelolaan air di Kota Balikpapan. Pertanyaan berikutnya adalah apakah dimanfaatkan atau hanya berfungsi sebagai alat syarat perizinan. Jika hal ini tidak disadari oleh pemerintah, maka pengendalian air di Kota Balikpapan hanya berfungsi sebagai syarat izin untuk dunia usaha.

Beberapa tulisan saya sebelumnya tentang kawasan perumahan dan pengelolaan air di Kota Balikpapan, dari awal sudah salah dalam kebijakan pemerintah. Rencana Tata Ruang Kota untuk kawasan perumahan dan dunia usaha ditempatkan di daerah hulu Kota Balikpapan, yaitu kawasan utara, dimana kawasan ini lebih dominan daerah perbukitan. Artinya kawasan yang seharusnya membutuhkan perlindungan besar di dalam pengelolaannya, namun pada kawasan ini dijadikan kawasan perumahan dunia usaha.

Seharusnya pemerintah Kota Balikpapan pada kawasan hulu dengan memperluas kawasan hijau, antara lain kawasan hutan kota dan memperbesar faktor pajak bagi bangunan yang berada pada kawasan ini, sehingga muncul efek pengendali bagi pemerintah di dalam pengelolaan kawasan hijau, gunanya adalah hutan sebagai fungsi hidrologi bagi ekosistem kawasan hulu. Jika terdapat banyak kawasan yang dihijaukan pada kawasan ini akan mengurangi beban pemerintah di dalam pengendalian air, karena hutan salah satu fungsinya adalah mengatur tata air secara alami.

Semoga konsep ini secara bersama-sama membantu pemerintah di dalam membangun Kota Balikpapan lebih baik. Kami yakin dan percaya Kota Balikpapan ke depan dengan niat yang baik oleh Wali Kota Balikpapan H. Rahmad Mas’ud akan menjadi salah satu Kota Metropolitan dengan pendekatan kebijakan pembangunan berkelanjutan (sustanaible development), yaitu dengan memperhatikan tiga fungsi yang saling terkait adalah fungsi lingkungan hidup, sosial dan ekonomi yang saling menjaga keseimbangannya. Kota Balikpapan merupakan berkah untuk kita semua. (***/die)




Moderated by Admin Sosmed BalPos


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment




UPAH MINIMUM TAHUN 2021
Daerah Sektor Nominal (Rp.)
BALIKPAPAN UMUM 3,069,315
BERAU UMUM 3,386,593
BONTANG UMUM 3,182,706
KUBAR UMUM 3,386,593
KUKAR UMUM 3,179,673
KUTIM UMUM 3,140,000
PASER UMUM 3,025,172
PPU UMUM 3,363,809
SAMARINDA UMUM Update menyusul

Temukan juga kami di