Atlet Jenuh Tanpa Kejuaraan, Tak Bisa Hibur Masyarakat

Ketika Pandemi Covid-19 Memutuskan Kegiatan Olahraga


18 Sep 2020, 12:38:10 WIB

Atlet Jenuh Tanpa Kejuaraan, Tak Bisa Hibur Masyarakat

MINIM BERTANDING: Lisa Setiawati, Nur Anisa, dan Nur Asiah, tiga atlet andalan Balikpapan merasa jenuh lantaran tak ada kejuaraan sejak munculnya pandemi Covid-19.


Pandemi Covid-19 memberi dampak ke semua sektor. Termasuk sektor olahraga. Tak ayal aktivitas yang biasa dilakukan terpaksa tidak terlaksana. Di Indonesia, sejak dinyatakan force majeure pada Maret lalu, praktis berbagai kejuaraan olahraga disetop dan ditunda untuk sementara waktu. Akibatnya, sudah hampir 6 bulan para atlet hanya menjalankan latihan mandiri di rumah.

HAMDAN/BALIKPAPAN POS

INDONESIA sejatinya bakal menggelar pesta olahraga terakbar tahun ini, yakni Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, Oktober mendatang. Namun, akibat pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19), memaksa kompetisi antar provinsi itu terpaksa tertunda hingga tahun depan.

Seluruh cabang olahraga di Kaltim dan juga para atletnya, sebenarnya sudah melakukan persiapan sejak jauh hari. Demi misi mempertahankan peringkat lima besar. Namun, karena corona, semua atlet harus “dirumahkan”. Seperti para atlet hoki Balikpapan yang memperkuat tim Kaltim, yakni Nur Anisa dan Fitriani di tim putri, serta Affandy Ali di tim putra.

Nur Anisa “dirumahkan” sejak Maret lalu, padahal dia tengah fokus mengikuti pemusatan latihan daerah (Puslatda). ”Dipulangkan sebenarnya percuma juga. Karena lapangan juga banyak tutup karena pandemi. Makanya sampai sekarang masih latihan mandiri saja,” ujar Nur Anisa.

Situasi selama 6 bulan tersebut membuatnya jenuh. Latihan mandiri tidak memberikan jaminan untuk tetap semangat latihan. Bahkan wanita yang pernah berpartisipasi di Asian Games 2018 ini mengaku sempat berpikir tidak ingin latihan lagi. Namun, karena tekadnya untuk meyumbang medali emas untuk Kaltim di ajang PON, maka dia tetap bertahan.

”Kalau semangatnya datang pasti maksimal, tapi kalau datang jenuhnya terkadang malas latihan. Mungkin kalau latihan sama tim pasti nggak jenuh. Tapi ini saya terpaksa latihan sendiri, makanya itu yang bikin malas,“ akunya. Biasanya Anisa menjalani latihan mandiri di rumah, areal Mal Balikpapan Baru, atau Lapangan Merdeka.
Pandemi Covid-19 memaksa berbagai kejuaraan yang sudah terjadwal ditiadakan. Terakhir kali Anisa mengikuti kejuaraan yaitu saat Prakualifikasi PON yang digelar Oktober 2019 lalu.

”Prakualifikasi PON itu yang terakhir, dan sampai sekarang belum ada lagi kejuaraan. Padahal hanya di situ (kejuaraan), kami bisa melihat performa di lapangan. Dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan,” jelasnya.
Anisa berharap corona ini bisa tuntas, agar bisa latihan tim dan eksis lagi di berbagai kejuaraan. ”Kami sebagai atlet juga bingung. Karena hanya ini profesi yang bisa kami lakukan. Semua provinsi pasti berpikir mau adakan kejuaraan. Tapi tentunya kesehatan dianggap sangat mahal untuk saat ini,” tuturnya.
Kakak dari Anisa, Nur Asiah yang juga merupakan atlet hoki, mengaku jenuh. Apalagi Asiah baru saja ingin mengembalikan stamina dan performanya pasca melahirkan 2019 lalu. ”Rencananya Maret lalu mau kembalikan kondisi pasca lahiran, tapi malah ada Covid,” kata Asiah.

Mengingat dirinya masih punya kans untuk masuk skuat Kaltim, wanita yang sudah merasakan PON sejak 2008 lalu ini pun berambisi kembali masuk skuat. Untuk itu dia pun tetap menjalani latihan mandiri, meski tidak maksimal. Biasanya, program latihan yang dijalankan, mengikuti Nur Anisa yang mendapat program tim PON Kaltim.

”Dari tim PON Kaltim kasih lampu hijau. Makanya siap-siap saja. Mana tahu ada rejekinya (dipanggil masuk skuat,Red.). Sampai sekarang saya belum ada niat untuk berhenti berolahraga. karena kelak akan menjadi bahan untuk diceritakan ke anak-anak nanti saat mereka besar,“ ujarnya.
Terlepas dari itu, Asiah berharap situasi seperti ini bisa segera selesai. Karena tak hanya dirinya, atlet lain juga jenuh. Karena untuk latihan di tempat umum juga takut. Kejuaraan sangat diharapkan para atlet.

”Infonya ada Kejurda Hoki pada Desember mendatang di Samarinda. Itupun kalau Covid sudah tuntas. Semoga ada kejuaraan dalam waktu dekat ini, sudah sangat rindu pasca dua tahun vakum dari hoki,” ucap Asiah.

Sementara itu, atlet nasional asal Balikpapan Lisa Setiawati, mengambil hikmah di balik pandemi ini. Dirinya tetap rutin berlatih karena tahun depan banyak event yang harus diikuti. Mulai dari PON Papua, SEA Games Vietnam 2021, hingga kejuaraan level internasional.
Terakhir kali Lisa mengikuti kejuaraan di ajang SEA Games 2019 Filipina. Diaman dia berhasil menyumbang medali perak kelas 48 Kg putri untuk Indonesia.

"Tahun ini praktis kejuaraan tidak ada. Jenuh sih sudah pasti, karena berlatih terus tapi nggak ada kejuaraan kan sia-sia. Tapi kan ini hanya sementara dan semoga segera berakhir,” harap Lisa.
Selama pandemi dia belum bisa memaksimalkan latihan. Karena kegiatan masih dibatasi dan harus protokol kesehatan.

”Semoga cepat berakhir, karena pandemi ini jadi sering jarang latihan. Sebab nggak boleh terlalu lama dan nggak boleh sering berkumpul,” imbuhnya.

Jarang latihan tentu merugikan, mengingat angkat besi merupakan olahraga terukur. ”Lagian juga nggak ada kejuaraan, bagaimana mau latihan maksimal. Nggak ada kejuaraan juga susah bisa tahu kemampuan. Makanya kondisi ini merugikan atlet,“ tandas Lisa.

Tak hanya atlet, pandemi Covid-19 juga dirasakan para pelatih. Bagi pelatih bola tangan Kaltim Dwi Chandra Hariwibowo, Covid-19 sangat mempengaruhi program latihan. Semuanya harus mulai dari awal lagi ketika kondisi normal.

”Yang bisa dilakukan saat ini lebih kepada menjaga fisik saja. Karena semua terbatas untuk latihan,” ujar Dwi Chandra yang akan mendampingi Kaltim di PON Papua.

Pun begitu, ada plus minus dengan kondisi ini. Persiapan jadi lebih panjang untuk mempersiapkan tim. Terutama menghadapi PON Papua tahun depan. Kekurangannya, latihan terus menerus tanpa ada uji tanding, bisa membuat atlet pada fase titik jenuh.

”Semoga saja pandemi Covid-19 bisa tuntas agar kejuaraan bisa tersaji lagi. Karena olahraga juga merupakan hiburan bagi masyarakat,” ujar Chandra. (ham/cal)




Moderated by Redaksi


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment




UPAH MINIMUM TAHUN 2021
Daerah Sektor Nominal (Rp.)
BALIKPAPAN UMUM 3,069,315
BERAU UMUM 3,386,593
BONTANG UMUM 3,182,706
KUBAR UMUM 3,386,593
KUKAR UMUM 3,179,673
KUTIM UMUM 3,140,000
PASER UMUM 3,025,172
PPU UMUM 3,363,809
SAMARINDA UMUM Update menyusul

Temukan juga kami di