Oknum Aparat Cabuli 5 Santriwati

AS Dikenal Sebagai Tokoh Agama yang Sering Khutbah


13 Sep 2019, 10:35:43 WIB

Oknum Aparat Cabuli 5 Santriwati

BALIKPAPAN- Sungguh miris kejahatan seksual saat ini. Di mana kejahatan yang satu ini berbagai latar belakang profesi bisa saja menjadi pelakunya. Meskipun tokoh agama ataupun seorang aparat.

Ya, baru-baru ini terungkap seorang oknum polisi aktif di lingkungan Polda Kaltim berinisial AS diduga menjadi pelaku pencabulan terhadap lima anak di bawah umur. AS yang juga merupakan tokoh agama serta guru ngaji ini rupanya mencabuli santrinya sendiri yang biasa mengaji di rumah pelaku di kawasan Sepinggan Raya, Balikpapan Selatan.

Kejadian ini dibenarkan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Balikpapan yang mendapatkan laporan terhadap kasus pencabulan terhadap lima anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu. Namun, kasus ini rupanya telah dilimpahkan ke Polda Kaltim, lantaran pelaku merupakan anggota Polda Kaltim.

"Ya benar, yang guru ngaji kan? Iya ada laporannya masuk ke kami. Tapi sudah dilimpahkan ke Polda Kaltim, karena pelaku anggota Polda," kata Kanit PPA Polres Balikpapan, Ipda Kusmanto saat dihubungi, kemarin (12/9).

Media ini pun mencoba mendatangi langsung di lingkungan korban. Nasrudin, Ketua RT setempat membenarkan bahwa lima warganya menjadi korban pencabulan AS. Nasrudin sendiri awalnya tak percaya, lantaran AS dikenal sebagai tokoh agama dan sangat dipandang di lingkungannya.

"Nggak nyangka. Saya kaget waktu tahu hal ini. Soalnya pelaku ini baik betul di sini. Dia ngajarin anak-anak ngaji dan sering khutbah di masjid," katanya Nasrudin saat ditemui di rumahnya, kemarin.

Nasrudin menjelaskan, awal terungkap tindakan pencabulan tersebut lantaran saat itu dia mendapatkan aduan dari warganya bahwa anak-anak santri yang mengaji di pengajian AS ini mendapat tindakan cabul. Pada Senin (8/9) lalu Nasrudin pun menanyakan kepada salah seorang korban yang didampingi orangtuanya, lantaran tidak mau lagi pergi mengaji. Dengan ketus orangtua korban menjawab bahwa anaknya dilarang untuk pergi mengaji di tempat AS. Nasrudin yang bingung ini lantas menanyakan perihal itu. Dia pun terkejut setelah orangtua korban menceritakan bahwa anaknya menjadi korban pencabulan AS.

"Nggak usah ngaji dulu di sana. Kata salah satu orangtua korban gitu kepada saya. Nah, saya ini kan penasaran, kok jawabnya begitu. Pas saya tanya baik-baik, ternyata anak dan orangtuanya mengakui adanya kejadian pencabulan itu," ungkapnya.

Nasrudin yang terkejut lantas mencari tahu informasi lebih detail mengenai masalah ini. Dan benar saja, rupanya tidak hanya satu anak saja, melainkan lima orang warganya menjadi korban pencabulan AS.

"Saya langsung laporkan kepada UPTD PPA. Saya ingin warga saya dilindungi," ujarnya.

Informasi yang berhasil dihimpun, diketahui kelima korban tersebut yakni SN (10), IM (12), NA (9), SNA (7) dan KI (11). Kelima korban ini mendapat perilaku cabul dari AS seperti memegang dan memainkan alat kelaminnya. Bahkan ada yang sempat dibawa ke salah satu hotel di kawasan Damai, Balikpapan Selatan.

Nasrudin menuturkan, para korban telah belajar ngaji bersama AS kurang lebih satu tahun lamanya. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan awalnya mengenai perilaku AS, sehingga warga mempercayainya. Dibalut dengan sisi religius serta petugas kepolisian, warga merasa tidak khawatir. Namun rupanya santrinya mengalami tindakan pencabulan.

"Kurang lebih setahun anak-anak di sini ikut belajar ngaji sama dia (AS). Ya tidak ada sama sekali perilaku yang menyimpang, saya saja kaget, karena harapan saya tidak mungkin seperti itu," pungkasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Ade Yaya Suryana menyebut, pihaknya belum bisa memberikan keterangan terkait kasus tersebut. “Nanti kami cek dulu, sejauh mana proses hukum terduga,” ungkapnya. Menurutnya, Polri tentu tidak akan menoleransi  jika ada anggotanya yang menyakiti masyarakat hingga melakukan pidana.

“Jika terbukti, ada tiga sanksi bakal dijatuhkan sesuai perbuatannya. Mulai teguran hingga pencopotan dari anggota Polri,” urainya. Lanjut dia, masyarakat sebagai pengontrol kinerja kepolisian diharapkan dapat memberikan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara yuridis. (yad/cal)




Moderated by adminbp


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment