Penelitian Soal Covid-19 Terus Digenjot, Salah Satunya lewat Air Liur




21 Sep 2021, 10:51:06 WIB

Penelitian Soal Covid-19 Terus Digenjot, Salah Satunya lewat Air Liur

ILUSTRASI Penelitian di laboratorium (Dery Ridwansah/JawaPos.com)


PANDEMI Covid-19 mendorong para peneliti untuk terus melacak penularan Covid-19 dari mulai profil virusnya, vaksin, hingga obat. Dalam Ristek/BRIN Kalbe Science Award (RKSA), para peneliti terus didorong untuk meningkatkan hasil yang optinal hingga membuat jurnal-jurnal ilmiah sebagai pegangan dalam mengendalikan pandemi Covid-19.

Dalam webinar RKSA, Dekan Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Prof. Widodo menyampaikan teknologi digital memegang peranan penting dalam waktu penelitian bidang kesehatan seperti contoh pembuatan vaksin. Semula harus melalui banyak proses penelitian, dari pengecekan jenis virus, memperbanyak virus, screening, efikasi, tahap uji klinis dan digunakan untuk umum.

“Sedangkan dengan teknologi digital, kita dapat mengakselerasi waktu penelitian dengan AI Bioinformatic dan  BIGData,” katanya baru-baru ini.

Ketua Dewan Pengawas Alinsi Telemedik Indonesia (ATENSI) Bayu Prawira Hie menambahkan dalam situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini wadah komunikasi dan informasi khususnya terkait layanan kesehatan diwajibkan berbasis digital. Sehingga layanan telemedicine memang menjadi unggulan.

“Mencakup layanan konsultasi dengan dokter, pengantaran obat, membuat janji ketemu dokter dilakukan untuk mengurangi risiko penularan Covud-19 dan mewujudkan pelayanan kesehatan yang memadai bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Bayu.

Setidaknya ada tiga peneliti dalam RKSA 2021. Pertama, David S. Perdanakusuma dengan judul penelitian Efektivitas Umbilical Cord Mesenchymal

Stem Cell-Secretome (UCMSC-S) Gel Terhadap Percepatan Reepitelisasi Luka. Bintang Soetjahjo dengan judul penelitian Efektivitas Pemberian Terapi Media Terkondisi Sel Punca Mesenkimal Tali Pusat Allogenik pada Pasien Osteoarthritis Sendi lutut.

“Dan ketiga, Alex Lukmanto Suherman dengan judul penelitian Pengembangan Rapid Test Kit Berbasis Single-Entity Electrochemistry (SEE). Tujuannya untuk deteksi Covid-19 di Saliva,” jelas Bayu.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko berharap melalui program RKSA ini dapat mendukung produk-produk penelitian yang siap dihilirisasi. Dengan  demikian, RKSA dapat merangsang para peneliti untuk lebih giat lagi menterjemahkan hasil penelitian menjadi produk atau barang atau jasa yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menyehatkan bangsa.

“BRIN sebagai fasilitator periset di Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung program RKSA sehingga menjadi role model bagi para periset untuk melakukan inovasi dan riset produk-produk penelitian yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menyehatkan bangsa,” kata Handoko.

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk. Vidjongtius mengatakan RKSA 2021 merupakan hasil kolaborasi dalam memperkuat kolaborasi triple helix antara akademisi, bisnis dan pemerintah serta komunitas penelitian lainnya untuk meningkatkan hilirisasi penelitian di bidang kesehatan. Sejak tahun 2018, RKSA memberikan dana penelitian bagi peneliti terpilih untuk didorong menuju proses hilirisasi penelitian agar hasil penelitian tersebut dapat dinikmati oleh masyarakat. (jpc/han)




Moderated by Admin Sosmed BalPos 2


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment




UPAH MINIMUM TAHUN 2021
Daerah Sektor Nominal (Rp.)
BALIKPAPAN UMUM 3,069,315
BERAU UMUM 3,386,593
BONTANG UMUM 3,182,706
KUBAR UMUM 3,386,593
KUKAR UMUM 3,179,673
KUTIM UMUM 3,140,000
PASER UMUM 3,025,172
PPU UMUM 3,363,809
SAMARINDA UMUM Update menyusul

Temukan juga kami di